Holycow – Senopati
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Saya baru saja membuat sebuah blog foto nih hehe.
Pertama kali terfikir untuk membuat blog ini adalah ketika saya mulai sadar betapa pasifnya kegiatan memotret saya. Berbulan-bulan kamera saya kebanyakan hanya berfungsi untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan sosial baik di kampus maupun di luar kampus. Saya rindu motret
Maka dari itu, saya berharap dengan dibuatnya blog foto ini, hasil foto saya yang sedikit itu bisa bertambah lagi. Mudah-mudahan saya bisa aktif motret lagi. Amin.
Monggo di cek linknya, Mas dan Mbak pembaca hehe.
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Maaf nih postingan kali ini ringan-ringan aja, mau numpang memberi link web bagus hehe :p
Ini ada web namanya Deal Keren. Web ini menjual berbagai macam voucher dari tempat-tempat makan, salon, penginapan, dll.
Lumayan loh, voucher bisa dibeli dengan harga murah. misal, saya mau beli voucher makan di sebuah tempat, voucher ini nilainya 100 ribu rupiah. di web ini, saya bisa beli dengan harga 50 ribu saja. jadi ngehemat 50% kan? hihi.
Buat yang suka makan, web ini berguna banget loh buat nyobain tempat-tempat baru dengan harga murah
Selamat mencoba!
Posted in Uncategorized | Tagged Review | 2 Comments »
Saya termasuk salah seorang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan. Entah senang, entah sedih. Sering kali lebih memilih menyimpan perasaan itu sendiri pada akhirnya. Kecenderungan mencari aman membuat saya sulit membagi perasaan saya, bukan karena ketidakpercayaan, namun lebih ke reaksi dari orang yang saya bagi perasaan nya.
Orang bilang, bahkan saya juga bilang, komunikasi itu penting. Kesalahan dalam berkomunikasi dapat berakibat fatal. Maka dari itu, berikanlah segala informasi yang seharusnya diberikan, jangan ada yang dilebihkan maupun dikurangkan, demi lancarnya komunikasi antara 2 orang atau lebih.
Namun sekali lagi, ketakutan terus menghantui saya. Takut jika saya berikan informasinya, malah ada terjadi kesalahpahaman sehingga seringnya saya diam.
Saya begini bukan berarti saya benar-benar tidak pernah membagi perasaan saya. Kadang jika saya merasa sudah tidak tahan menyimpan sendiri, saya akan bilang dan membaginya, entah kepada teman terdekat saya, atau kepada orang yang bersangkutan langsung mengenai perasaan saya. Namun kadang reaksi yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya harapkan sehingga timbul lah generalisasi. Buruk memang pikiran ini. Menyebabkan saya berpikir 2 sampai 3 kali atau bahkan lebih, untuk membagi yang saya rasakan kepada orang.
Menyimpan perasaan sendirian, apalagi perasaan sedih memang tidak baik. Seringnya saya akan menulis, seperti ini, atau mendegarkan lagu hingga tertidur agar merasa lebih baik.
Kadang-kadang bahkan penyebab saya tidak mau berbagi cerita juga disebabkan karena argumen-argumen yang dibuat oleh logika saya sendiri. ‘Cemen lo, gitu doang sedih,’ atau ‘itu sih nggak ada apa-apanya, buat apa sih dipusingin,’ atau ‘kadang lo suka lebay deh kalo mikir, perasaan lo doang kali tuh,’ atau ‘dasar si sensitif, gitu doang kebawa perasaan.‘
Suka bikin lelah sendiri. Berdebat dengan logika.
Saya akui memang sifat ini buruk sekali, tapi boleh percaya atau tidak, saya sudah cenderung bersikap introvert sejak saya kecil. Sampai sekarang tidak bisa hilang, malah mungkin tambah parah.
Mungkin salah satu hal yang menambah parah hal ini adalah ketakutan saya yang berlebihan, atau malah tak beralasan. Saya terlalu peduli terhadap perasaan orang, saya juga terlalu berspekulasi buruk pada setiap keadaan dengan pembenaran ‘prepare for the worst‘. Padahal seharusnya saya berani membuka diri terhadap penolakan, kegagalan, dan sebagainya. Seringnya saya terlalu merasa takut sehingga hal yang saya rencanakan biasanya tidak akan terlalu muluk, takut akan kegagalan.
Pengecut. Ya, anggap saja saya pengecut. Toh memang seperti itu keadaannya. Saya merasa cukup aman di dalam boundary ini.
Maaf jika saya suka membuat bingung.
Maaf jika saya suka diam.
Maaf jika saya suka khawatir berlebihan.
Maaf jika saya suka mencari aman,
Posted in Uncategorized | Tagged Thoughts | Leave a Comment »

Film ini dibuat dengan latar tahun 1930an meceritakan tentang Bertie (Albert Frederick Arthur George – George VI), Duke of York, yang merupakan anak dari King George V yang memiliki kesulitan dalam berbicara akibat kegagapannya. Ketakutan terbesarnya adalah berbicara di depan publik. Figur sebagai Duke of York menuntutnya untuk sering berbicara di depan publik.
Kekhawatirannya memuncak ketika ayahnya sering sakit. Ketidakcekatan kakaknya, Edward, membuat orang kerajaan khawatir, Inggris dibawah pemerintahan Edward akan menjadi buruk. Apalagi Edward bersikeras untuk menikahi seorang socialite Amerika yang sudah menikah 2 kali, Wallis Simpson, yang berarti menentang peraturan kerajaan. Keadaan ini memungkinkan Bertie untuk menggantikan posisi ayahnya, yang mana adalah seorang raja. Raja pada saat itu adalah orang yang menyuarakan rakyatnya dan Bertie sangat tertohok dengan fakta ini.
Istri Bertie, Elizabeth, turut prihatin dan sudah sering membawa Bertie ke beberapa ahli untuk menyembuhkan kesulitannya itu. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Elizabeth kemudian direkomendasikan kepada seorang speech therapist asal Australia, Lionel Logue, yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang kontroversial. Sudah lelah dengan berbagai macam metode penyembuhan, Bertie yang memiliki tempramen tinggi ini awalnya menolak untuk menemui Lionel. Pada saat ia akhirnya pergi mengunjungi Lionel, ia pun masih menunjukkan ketidaksediaannya untuk disembuhkan. Namun ternyata Lionel tidak saja mampu membuat Bertie bersedia mengikuti metodenya, tetapi juga menjadikan dirinya sebagai teman yang dapat dipercaya.

Saat pertama kali memutuskan untuk menonton film ini, saya tidak mengetahui apapun tentang film ini kecuali film ini sering kali keluar sebagai nominasi di ajang perhargaan film Golden Globes dan Academy Awards. Saya memang bukan orang yang sering mengikuti update tentang berita perfilman, tapi seringnya film ini keluar di banyak nominasi membuat saya tertarik untuk menontonnya walaupun saya belum baca apapun tentang sinopsis maupun reviewnya.
Baru 5 menit film dimulai, saya langsung tidak tahan memuji kerja DOP (Director of Photography) nya. Pengambilan angle yang tidak biasa dengan selera yang cukup baik membuat saya betah mengagumi objek kamera. Danny Cohen, sang DOP, benar-benar membuat para penonton dapat menikmati teknik pengambilan gambar yang hampir sempurna. Tak heran jika film ini masuk ke nominasi Best Achievement in Cinematography di Academy Awards 2011 bersama film Inception, Black Swan dan The Social Network.
Mungkin film ini hanya bercerita tentang seorang Duke of York dan kesulitannya dalam menghadapi ketidaksempurnaan dirinya sebagai seorang figur, namun acting Colin Firth yang sungguh memukau dalam memerani Bertie membuat saya sangat terbawa dalam cerita yang deep dan emosional.
Best Achievement in Directing (Academy Awards 2011) pantas disandang oleh Tom Hooper (Sutradara). Beliau sungguh mampu menggarap film ini dan mengarahkan para aktor dan aktrisnya dengan baik. Acungan jempol tentunya juga harus diberikan kepada aktor dan aktris di film ini, diantaranya Helena Bonham Carter (Elizabeth I) dan Geoffrey Rush (Lionel Logue) yang sudah meramaikan film ini dengan acting mereka yang tidak kalah memukau.
Mungkin jika film ini disajikan dengan acting, arahan, dialog, dan teknik pengambilan gambar yang tidak mendukung akan menjadi sebuah cerita yang monoton dan membosankan. Film lain yang saya ketahui yang menceritakan tentang drama sejarah semacam film ini adalah Marie Antoinette (2006). Film ini terkesan monoton dan membosankan. Dari awal menonton Marie Antoinette hingga sudah di akhir film pun perasaan saya sama saja, datar. Bahkan saya mencoba menonton untuk kedua kalinya untuk lebih meyakinkan waktu itu mood saya sedang benar. Ternyata memang film ini tidak sememukau The King’s Speech baik dari segi cerita, dialog, dan acting dari Kristen Dunst yang menurut saya kurang membawa penonton ke dalam konfliknya. Benar-benar sangat berbeda dari The King’s Speech yang menurut saya hampir sempurna secara keseluruhan.
Dialog dalam film ini menarik dan tidak setua latar belakang tahunnya, (diceritakan bahwa orang sekelas Bertie pun memiliki temptation untuk mengumpat dan mengeluarkan kata kasar walaupun tidak di depan umum) sehingga alur cerita tetap menarik untuk diikuti dan tidak membosankan. Padahal jika difikirlagi, konflik dalam cerita ini tidak seseru konflik pada film Inception dan The Social Network. Namun saya tetap tidak bosan. Film ini juga didukung dengan scoring yang pas. pada bagian akhir film scoring akan benar-benar membawa adegan ke bagian klimaks sehingga selesai menonton film perasaan saya benar-benar puas.
The King’s Speech merupakan film yang paling berkena di hati saya tanpa melalui efek komputer yang keren seperti Inception atau Transformers, melainkan melalui murni seni dalam filmnya. Film ini wajib tonton untuk Anda yang menggemari film Biografi dan drama.
Posted in Uncategorized | Tagged Movie Review | Leave a Comment »
“If you have poor spatial ability and you are in fourth semester of physics engineering ITB. With all due respect, you’re going to be fucked up. Just like me.” -Mediane Nurul Fuadah, Teknik Fisika 2009.
Sudah lama sekali sejak hari terakhir saya posting tulisan di sini. Maaf, bukan maksud hati untuk sombong. Hanya saja saya pikir kualitas menulis saya sedang menurun beberapa bulan belakangan ini. Kerjaannya hanya suka m-reblog postingan orang-orang di tumblr, yang notabene lebih sedikit mikirnya dibanding dengan menulis sendiri. Saya benar-benar dirundung kemalasan beberapa bulan ini.
Masih merasa kualitas menulis saya belum membaik, izinkan saya hanya sekedar bercerita tentang kehidupan saya akhir-akhir ini.
Saya sudah memasuki semester 4. semester yang sering di-neraka-kan oleh para senior saya. Awalnya saya pikir tidak seberlebihan itu. Toh, kuliah di kampus gajah ini memang sudah terasa berat, paling hanya butuh sedikit penyesuaian dan manajemen waktu yang lebih baik lagi. Setelah satu bulan lebih menjalani kuliah semester 4, kini saya mengerti mengapa banyak orang mengumpat jika mengenang masa semester 4 nya di Teknik Fisika ITB.
Sebenarnya saya sudah merasa sangat nyaman dengan program studi saya ini. Saya tahu, banyak orang beranggapan fisika itu susah. Iya, saya juga tidak menyangkal. Fisika memang susah, bahkan nilai saya juga banyak yang jelek semester kemarin. Namun jika disuruh memilih matematika, kimia atau fisika, saya akan memilih fisika. Saya suka belajar fisika, meskipun saya tidak suka dengan ujian nya :p
Saya senang kok belajar fisika, tapi semester ini benar-benar membuat satu angkatan saya geger. Sering mengeluh kekurangan waktu untuk melakukan hal selain mengerjakan tugas pendahuluan praktikum, laporan praktikum, take home test yang harus dikumpulkan pukul 7 pagi dengan tingkat kesulitan soalnya selevel tingkat dewa, belum lagi kalau ada kuis. Kami seperti tidak punya weekend. Hari produktif kuliah kami seperti sudah mulai dari hari minggu, bukan dari hari senin lagi. Bahkan malam minggu pun sudah terasa nggak asik lagi. Sedang asik menikmati malam minggu, eh dapet sms disuruh dateng ke kampus minggu pagi untuk bikin tugas seabrek. Benar-benar, kami cuma merasa lega tiap jumat malam. terasa seperti jaman TPB lagi, namun dengan pressure yang lebih tinggi.
Bukan maksud mengeluh, tapi beginilah keadaan yang sebenarnya. fucked up. kasar mungkin, tapi istilahnya sudah cukup mewakili perasaan kami, mahasiswa tingkat 2 Teknik Fisika ITB.
Saya cuma bisa berusaha hingga akhir. Saya nggak mau IP saya jelek lagi
sudah cukup bikin kecewa orang tuanya. Sekarang saatnya bikin mereka bangga. Duh, tapi sekali lagi saya benar-benar fucked up di semester ini. (pesimis lagi, haha) Saya butuh doa. Semester ini saya cuma ambil 18 sks, hanya ngambil yang wajib saja. Teman-teman saya banyak yang ambil 20sks padahal. Nggak apa-apa deh, nggak pengen lulus cepat-cepat juga. Takutnya saya nanti main lulus aja, ilmu pada lupa.
Oh iya, mulai semester 4 ini saya juga sudah mulai mengatur keuangan saya lebih baik. Setiap awal bulan saya bikin anggaran untuk sebulan ke depan kira-kira apa saja kebutuhannya. Setelah itu saya bisa menjatah uang sisa dari kebutuhan wajib dan bisa memanajemen uang tersebut untuk keperluan lain dan tabungan. ternyata cara ini lumayan berhasil, asal nggak ada keperluan tak terduga yang besar ya. Untuk anak kos, coba deh pake cara ini. Saya juga disarankan ini oleh senior saya, ternyata membantu
Semester 4 ini saya sedang melakukan perubahan yang cukup signifikan pada kehidupan saya. semoga ke depannya kehidupan saya lebih teratur dan lebih baik.
Salam,
Kikong.
p.s. Dirgahayu 52 tahun ITB!
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Sudah beberapa kali saya melihat laporan statistika blog ini dan menemukan bahwa blog ini sempat dikunjungi oleh beberapa orang yang menemukannya melalui search engine dengan keyword ‘TPB ITB’ atau ‘Buku untuk TPB ITB’ atau ‘Buat TPB ITB’ dan sebagainya. Saya berspekulasi orang-orang tersebut adalah calon mahasiswa baru ITB angkatan 2010 yang sedang mencari informasi tentang TPB di ITB. Maka dari itu, saya akan mencoba menjabarkan sedikit tentang apa yang saya ketahui dan saya alami semasa TPB di ITB.
Apa itu TPB?
TPB, atau lengkapnya Tahap Persiapan Bersama, adalah tahap dimana seluruh mahasiswa baru ITB masih mempelajari mata kuliah dasar yang sama dan belum terkonsentrasi pada bidang keprofesiannya masing-masing. Pada angkatan 2007 beberapa fakultas, salah satunya FITB, sudah mulai menerapkan sistem penjurusan pada tingkat 2. Jadi, mahasiswa baru diterima masih di fakultas dan belum memasuki jurusan. Pada masa TPB mereka akan diberikan kuisioner dan memilih jurusan yang mereka kehendaki. Pada angkatan 2008, semua jurusan sudah menerapkan sistem ini (kecuali SBM) dan terus berlanjut hingga saat ini. Jadi, mahasiswa baru pada awalnya akan ditempatkan di fakultas terlebih dahulu. Pada akhir masa TPB barulah mereka akan dijuruskan ke jurusan masing-masing yang mereka dapat.
Mata Kuliah di TPB
Mata kuliah yang dipelajari beberapa diantaranya adalah Fisika Dasar, Kimia Dasar, Kalkulus, Sistem Alam dan Semesta, Tata Tulis Karya Ilmiah, Bahasa Inggris, Olah raga dan lain-lain. Satu angkatan masih mempelajari mata kuliah yang sama, kecuali Fakultas Seni Rupa dan Desain dan Sekolah Bisnis dan Manajemen (CMIIW).
Untuk tetap menyeimbangkan kebutuhan ilmu tiap fakultas, beberapa fakultas mendapatkan mata kuliah dengan bobot yang berbeda. Misalnya, Fakultas Teknik Industri mendapatkan mata kuliah Pengenalan Teknologi dan Informasi (semacam Ilmu Komputer) dengan bobot C (biasanya cuma belajar Ms. Word, Ms. Excel dkk), sedangkan Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian mendapatkan bobot B (tingkat yg lebih sulit, mulai belajar Pascal kalo nggak salah, mgkn karena ada pemetaan di tingkat lanjut mereka), dan juga Sekolah Teknik Elektro dan Informatika mendapatkan bobot A (yang lebih susah lagi tapi saya nggak tau pasti mereka belajarnya apa hehe, kebutuhan untuk anak Informatika nampaknya).
Masih banyak lagi contohnya, berikut beberapa daftar mata kuliah eksak fakultas dan bobotnya yang saya ketahui, (mohon dikoreksi jika ada kesalahan) :
FTI, FTSL, FMIPA, FTTM, FTMD, STEI, FITB
Fisika Dasar A
Kalkulus A
Kimia Dasar A
SAPPK
Fisika Dasar B
Kalkulus A
Kimia Dasar B
SITH & SF
Fisika Dasar B
Kalkulus B
Kimia Dasar A
untuk FSRD dan SBM saya kurang tau seperti apa, karena mata kuliahnya berbeda juga hehe. By the way, mohon diperhatikan, bobot ini nggak selalu tentang tingkat kesulitan. Menurut saya sih kalo ditanya sulit apa nggak, yaaaa semua sama rata sulit. Kalau pada mata kuliah eksak biasanya bobot ini menitikberatkan pada bab atau sub bab yang dipelajari. kalo nggak salah teman saya yang dapet Fisika Dasar B soal tutorialnya (semacam latihan) sudah menggunakan bahasa inggris, saya juga cukup kewalahan dengan hanya membaca soalnya.
Mata Kuliah Pengantar Fakultas
Beberapa fakultas yang ada memiliki mata kuliah pengantar agar mereka dapat memahami lebih dalam tentang fakultas mereka dan juga jurusannya masing-masing.
Misalnya fakultas saya, Fakultas Teknologi Industri, memiliki mata kuliah pengantar bernama Pengenalan Teknologi Industri. Mata kuliah ini pada dasarnya menekankan tentang apa itu Engineering, apa saja pekerjaan Engineer, peran Engineer, dan sebagainya. Mata kuliah ini juga memberikan pengetahuan dan penjelasan penting mengenai ketiga jurusan yang ada di FTI; Teknik Kimia, Teknik Industri, dan Teknik Fisika (atau sering disebut Fisika Teknik). Saya dijelaskan tentang apa saja bidang yang akan dipelajari ketiga jurusan tadi secara garis besar, kemudian juga mengenai kurikulum yang akan saya pelajari nantinya, bidang keprofesiannya, dan lain-lain. Mata kuliah ini, jujur saja, sangat bermanfaat dalam penjurusan. Saya jadi paham betul mengenai jurusan-jurusan yang ada di fakultas saya, sehingga nantinya kami yang berada satu fakultas ini dapat saling bekerja sama dengan baik saat kerja.
Mata kuliah pengantar fakultas lain yang saya ketahui diantaranya :
SAPPK : Teknik Presentasi (mata kuliah ini yang saya tahu cuma tugasnya aja, kalo isinya tentang apa saya kurang tau juga. setau saya, mata kuliah ini banyak memberi tugas seperti membuat essay dan observasi lapangan untuk pemahaman jurusan Planologi dan juga membuat gambar prespektif dan gambar arsitektur dasar seperti gambar tampak depan, samping, belakang, dll untuk pemahaman jurusan Arsitektur).
SITH : Konsep Biologi (Kurang tau juga batasan biologinya sampai mana)
STEI : DRE (nggak tau singkatan apa. setau saya semacam mata kuliah yang mempelajari ilmu dasar rangkaian listrik gitu. eh tapi nggak tau juga sih, dari yang saya lihat di bukunya banyak gambar rangkaian listrik gitu. CMIIW lagi deh hehe)
FTSL : PRI (singkatannya kalo nggak salah Pengantar Rekayasa Infrastruktur, kurang tau belajar apa hehe)
FTMD : Statika Struktur (atau sering disebut Statur, belajar mekanika fisika kalo nggak salah, tapi nggak tau juga sih hehe)
FTTM : Pengantar Teknologi Sumberdaya Bumi
dan masih banyak lagi sebenernya kayak SF yang dapet pengantar farmasi, FMIPA juga, dll tapi gatau nama mata kuliahnya apa hehe.
Buku yang biasa digunakan
untuk awal mula, mahasiswa baru biasanya dibagikan lembaran yang berisi daftar buku yang akan digunakan saat kuliah. sebenarnya, saat kuliah nanti buku tidak lah wajib dibeli, bisa pinjam ke perpustakaan sebenernya. cuma di perpus kalo lagi deket UTS suka abis. Biasanya saya sih udah minjem buku tersebut 1 minggu sebelum minggu UTS mata kuliah tersebut dimulai, curi start istilahnya hehe. yah walaupun kena denda 1000/hari tapi seenggaknya jadi dapet buku buat belajar hehe.
Untuk buku fisika dasar biasanya di lembaran ditulisnya kita menggunakan buku karangan Halliday, tapi pada saat kuliah dan menghadapi ujian, saya lebih suka pake buku karangan Tipler. Bahasanya lebih simpel dan lebih mudah dimengerti. Biasanya yang udah expert suka pake Halliday, tapi saya kurang nyambung karena berat gitu hehe.
Untuk buku kimia dasar, nggak ada yang ngalahin buku Brady yang bahasa inggris. Ingat, yang bahasa inggris. Emang sih kadang-kadang kosa katanya aneh, makanya siapin kamus oxford yg kecil itu aja tiap lagi baca buku ini. Buku ini lengkap dan jelas banget. Ini adalah buku favorit saya! (errrrr maksudnya buku pelajaran ya, bukan buku in general hahaha). Saya nyaraninnya sih beli yang asli aja, berwarna soalnya. kalo nggak yaaa pinjem di perpus kayak saya ini hehe. Eh iya, karena ini buku jelas banget, saran saya sih kalo bisa sering-sering dibaca, karena bahan buat ujian kimia tuh banyak banget kalo harus dibaca cuma dalam selang waktu seminggu (pengalaman pribadi). Coba cicil dari lama, enak kok baca buku ini kalo lagi nggak dalam tekanan
Untuk buku kalkulus, udah harga mati kayaknya, pake buku karangan Purcell dkk. Buku ini juga sangat oke untuk latihan. Kalo untuk penjelasan mungkin nggak terlalu jelas, namanya juga kalkulus, harus nyoba dulu baru ngerti. Buku ini sih banya latihannya dan juga bertahap gitu. Jadi kita bisa paham kalo rajin ngerjain latihan-latihannya secara berurutan. Kayaknya emang udah paling enak pake Purcell hehe.
Kalo mata kuliah lain buku nggak terlalu wajib sih, paling TTKI aja (Tata Tulis Karya Ilmiah), soalnya di buku ini banyak soal-soal yang mirip sama UTS dan UAS nya juga. Lagipula menurut saya buku ini bakal banyak berguna sampe kita ngerjain TA nanti hehe.
Tentang Pengambilan Nilai
Untuk pengambilan nilai, biasanya ada 3 kali ujian. UTS (Ujian Tengah Semester) 1, UTS 2, dan UAS (Ujian Akhir Semester). Selain ujian, ada penilaian melalui tugas, praktikum, dan absen juga. Setiap mata kuliah memiliki bobot yang berbeda-beda buat tiap UTS dan absen dkk. Misal, di mata kuliah Fisika Dasar nilai UTS 1 berkontribusi 30% untuk nilai akhir, UTS 2 30%, Praktikum 20%, Quiz 10%, dan absen 10%. Setiap nilai UTS 1 dan 2 nantinya hanya diambil 30%nya saja, quiz 10% saja dst untuk nilai akhir. Nilai Akhir akan menentukan Indeks yang mana berupa huruf; A hingga E.
Tiap Indeks memiliki nilai masing-masing,
A bernilai 4
AB bernilai 3,5
B bernilai 3
BC bernilai 2,5
C bernilai 2
D bernilai 1
E bernilai 0
nantinya indeks masing-masing matkul yang diambil dalam 1 semester akan diakumulasikan sesuai SKS yang sudah diambil kemudian dirata-ratakan dan jadilah nilai Indeks Prestasi (IP) kita. (range IP dari 0 hingga 4)
Untuk mata kuliah Fisika Dasar dan Kimia Dasar, jika pada perhitungan nilai UTS 1 dan UTS 2, praktikum, quiz, dan juga absen sudah mencukupi batas aman (biasanya C), maka mahasiswa tidak lagi perlu mengikuti UAS. jadi kalo di mata kuliah Fisika Dasar dan Kimia Dasar, UAS sifatnya seperti ujian perbaikan, tetapi nilai maksimalnya kalo fisika hanya C sedangkan untuk kimia nilai maksimal perbaikannya B.
Untuk mata kuliah lain seperti kalkulus, bobot UAS nya tetap masuk dari awal. Misal (saya lupa pastinya), nilai UTS 1 25%, UTS 2 25%, UAS 40%, quiz 10%. Jadi nggak ada yang namanya perbaikan.
Tentang Penjurusan
nah ini nih yang membuat kadang keindividualisan seorang mahasiswa ITB terlihat. Biasanya beberapa Fakultas memiliki jurusan yang dominan minat dari mahasiswa fakultasnya. Karena bangku yang tersedia tidak mencukupi menampung seluruh mahasiswa yang berminat, maka dilakukan seleksi IP. Jadi ibaratnya yaaa seperti ikut seleksi masuk perguruan tinggi lagi.
Dulu saya mendapatkan kuisioner penjurusan pertama saat acara pendaftaran ulang mahasiswa baru sekaligus Gladi resik sidang terbuka PMB diadakan. Kusioner ini gunanya untuk mengetahui pada jurusan apa mahasiswa berminat. Total kuisioner yang diberikan selama TPB ada 3 buah. Setelah 3x mengisi kuisioner, kuisioner yang terakhir merupakan kuisoner final yang akan dijadikan sebagai acuan penjurusan.
Penjurusan dilaksanakan berdasarkan minat, minat dilihat dari hasil kuisioner penjurusan; pilihan 1 dianggap sebagai minat paling tinggi dan pilihan 3 dianggap sebagai minat paling rendah.
Namun, di beberapa jurusan yang minatnya dominan, sering kali kursi yang tersedia tidak cukup untuk menampung seluruh mahasiswa yang memilihnya. Oleh karena itu akan ada penyeleksian melalui IP pula. misal, pada FTI program studi teknik kimia memiliki kuota 125 kursi, sedangkan yang memilih teknik kimia ada 150 orang. kuota teknik industri 160 kursi, sedangkan yang memilih teknik industri sudah 160 orang. kuota teknik fisika 100 kursi dan yang memilih teknik fisika sebagai pilihan pertama masih 75 orang. Terlihat bahwa prodi Teknik Kimia kelebihan 25 orang dan teknik fisika kekurangan 25 orang. Maka, dalam penjurusan ini mahasiswa yang memilih teknik kimia sebagai pilihan 1 akan diurutkan IP nya mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. 25 orang terendah akan terlempar ke teknik fisika, walaupun pilihan 2 nya adalah teknik industri. hali ini dikarenakan mahasiswa yang berminat pada teknik Industri pada pilihan 1 sudah mencukupi kuota.
Penjurusan ini memang gambling sekali, makanya tidak jarang mahasiswa TPB ITB terkesan lebih rajin dari mahasiswa tingkat atas. Mereka masih belum dapat jurusan yang mereka inginkan dan mereka biasanya akan berjuang habis-habisan. Yah begitulah.
Namun ada sedikit tambahan, penjurusan juga menggunakan pembobotan nilai pada mata kuliah tertentu. Misal, seorang mahasiswa memilih prodi teknik kimia pada pilihan pertama di kuisioner terakhir, teknik industri di pilihan 2, dan teknik fisika di pilihan 3. Namun, dia tidak berhasil mendapatkan teknik kimia. Dia seharusnya terlempar ke Teknik Fisika karena prodi teknik industri sudah penuh dengan mahasiswa yang memilihnya sebagai pilihan 1, tetapi dia malah terlempar ke Teknik Industri, bukan ke Teknik Fisika. Bagaimana mungkin?
Mungkin saja jika mahasiswa tersebut sebenarnya IP nya sudah cukup untuk masuk ke dalam 125 orang tertinggi yang memilih teknik kimia, namun ternyata nilai kimianya masih kurang bagus, misal hanya C. kalau tidak salah, Prodi teknik kimia memberikan bobot tinggi pada nilai kimia, jadi jika ternyata ada orang yang IP nya mungkin sama dengan mahasiswa ini namun nilai kimianya lebih tinggi (misal B), maka orang ini lah yang akan masuk ke Teknik Kimia. Namun, mahasiswa bernasib kurang beruntung ini akan terlempar ke Teknik Industri, bukan teknik fisika. entah bagaimana pertimbangannya, yang jelas kasus seperti ini sudah saya temui di beberapa teman saya.
ribet ya penjurusan itu -__- untung saya dari awal emang milih teknik fisika, jadi nggak terlalu ribet mikirin penjurusan hehe.
Tentang Ospek
entah kenapa banyak banget yang nanyain soal kaderisasi di ITB waktu saya datang berkunjung ke SMA saya. mungkin mereka agak takut mendengar isu-isu yang beredar di masyarakat.
kalo sebagai mahasiswa baru sih sebenernya santai aja, ospek baru akan mereka dapat ya kalo udah dapet jurusan, sering disebutnya Ospek Jurusan atau osjur. Osjur itu kaderisasi buat masuk himpunan jurusan. Ya saya ini sebenernya yang sebentar lagi bakalan diosjur hehe. Kalo mahasiswa baru sih entah ini namanya ospek atau bukan, tapi yang pasti mereka begitu masuk akan diberikan orientasi tentang kampus ITB lewat materi dan seminar-seminar gitu selama 1 minggu. Kalo tahun ini nama acaranya OSKM. Bisa dibilang nggak berat, jauh banget dari bayangan kaderisasi pas jaman SMA. Bhakan menurut saya sih seru banget, dapet keluarga pertama di ITB tuh dari OSKM, banyak dapet pengetahuan juga tentang ITB. jadi ya santai aja
soal osjur sih nanti aja cari tahu sendiri pas udah masuk kampus, masih ada satu tahun buat cari tahu hehe. saya juga belum ngerasain osjur, jadi nggak bisa bilang apa-apa tentang osjur. yang saya tahu sih metode osjur tiap jurusan berbeda-beda.
masih banyak sih yang bisa diceritain tentang TPB, tapi kalo diceritain semuanya bakal panjang banget hehe. saya baru sejengkal melangkah dari TPB, jadi masih lumayan hangat ingatannya. agak deg-degan juga masuk ke fase baru ini. banyak yang bilang TPB itu layaknya kelas 4 SMA. Saya jadi ngerasa kayak mau masuk kuliah buat pertama kali lagi hehe.
Saran saya, nikmati aja TPB. Angkatan atas bilang, TPB adalah Tahap Paling Bahagia di ITB. hmmm, setelah dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Emang sih, stress nya tinggi banget karena kan kita masih penyesuaian sama lingkungan. Tapi pas TPB kita masih dituntun ini itu, ntar tingkat berikutnya udah harus mulai ngurus diri sendiri, (sigh).
weh, ini panjang lebar banget ya. mohon maaf ya kalo ada temen-temen ITB yang baca terus ngerasa ada yang salah baik dalam penulisan maupun sistem yang saya jabarkan. mohon dikoreksi bersama hehe. saya kan baru setahun juga di sini, jadi masih awam juga bisa dibilang hehe.
tanggal 9 Agustus nanti tahun ajaran baru akan dibuka. wohooooo entah mau senang atau sedih, liburan juga belum kerasa padahal hehe. Tetap semangat semuanya! Sampai jumpa teman sejurusan baru dan selamat datang calon mahasiswa baru ITB yang katanya putra-putri terbaik bangsa (ups, arogansi kampus. bercanda kok hehe.)
Posted in Uncategorized | Tagged Kuliah | 1 Comment »
Tidak apa-apa menjadi idealis walaupun hanya semasa kuliah, karena kita mahasiswa, dan akan selalu ada yang menggantikan kita.
Diklat OSKM 2010 telah banyak merubah fikiran saya, terlebih lagi, mengisi kekosongan fikiran saya tentang kemahasiswaan. Boleh dibilang saya ini anaknya lumayan idealis. Berangkat dari ide seorang mentor saya di lingkar wacana satu tahun lalu di PROKM 2009, seseorang dari jurusan Planologi yang saya lupa siapa namanya. Beliau berkata-kata kira-kira seperti yang sudah saya tulis di atas (re : tidak apa-apa menjadi idealis..). Kemudian saya tersadar, kata-kata tadi ada benarnya juga. Walaupun mungkin sebisa saya nantinya akan berusaha untuk tetap idealis di dunia kerja, tetap saja kemungkinan ke-idealis-an saya bisa luntur akan ada. Namun, ketika saya menginjak dunia kerja nanti, ribuan orang akan menggantikan posisi saya menjadi mahasiswa. Mereka yang baru memasuki kehidupan mahasiswa akan menggantikan peran saya sebagai mahasiswa yang seharusnya idealis. Jadi jangan berpikir bahwa ‘buat apa idealis? toh nantinya kalau sudah kerja ketemu duit lupa juga‘. Sekaranglah waktunya untuk kita menjadi idealis, wahai mahasiswa. Karena saat inilah saat dimana kita menjadi mahasiswa. Tidak perlu berlebihan, ingatkan saja pada diri kamu semua, kamu adalah mahasiswa. Mahasiswa adalah golongan pemerhati nasib bangsa dan turut berkontribusi dalam memajukan negaranya baik melalui keprofesian maupun non-keprofesian.
Posted in Uncategorized | Tagged Thoughts | 1 Comment »
Photographers : Rizky Inayati, Akbar Ilham Manangkasi, Sayyida Lathifa, Nanda Ekaputra P., Aviandito Prasetyo, Efrina Chandra, Silvia Anugrah, Achmad Hari, Krisna Adipranata, Dang Dwaya Reksawibisana.
Talents : Ajeng Larasati (Teknik Sipil ITB 2009) & Serra Fionalita (Teknik Industri ITB 2009)
Make Up : Kendra (Desain Interior ITB 2009) & Ghina Marros (Planologi ITB 2009)
Place : Taman LFM
*the photos above’s credit to Rizky Inayati
Terimakasih yang sebesar-besarnya buat Ajeng dan Eya yang udah mau jadi model, dan juga Krisna buat pinjeman lensanya dan juga Kabid Foto LFM, kak Cebi! belum sempet memproses lebih jauh, tunggu di deviantArt ya
Posted in Uncategorized | Tagged LFM, Photos | 1 Comment »

Harapan saya sebenarnya sangat tinggi ketika mengetahui film Eclipse sudah akan rilis, walaupun saya tahu pada akhirnya memang saya akan kecewa. Menurut saya diantara keempat buku karangan Stephenie Meyer, Eclipse merupakan buku yang ceritanya paling bagus. Oleh karena itu, setidaknya saya berharap filmnya juga akan lebih baik kualitasnya daripada film-film Twilight Saga sebelumnya.
Seperti cerita di buku, film ini menceritakan tentang kisah cinta segitiga Bella Swan, Edward Cullen, dan Jacob Black yang cukup complicated. Melanjutkan kisah film sebelumnya, New Moon, Bella yang memutuskan untuk menjadi vampir untuk bisa tetap bersama Edward membuat Jacob Black geram. Jacob meyakinkan Bella bahwa jika dia memilih Jacob, hidupnya akan jauh lebih baik daripada dia memilih Edward. Edward sendiri juga berusaha meyakinkan Bella bahwa dirinya tidak harus berubah menjadi makhluk berdarah dingin ini karena Edward tidak ingin Bella kehilangan jiwanya. Namun, Bella yang keras kepala tetap ingin berubah menjadi vampir dan di samping itu dia juga sudah terikat perjanjian dengan keluarga Volturi, keluarga Vampir yang berkuasa dan dia tidak ingin keluarga Cullen mendapatkan masalah karena dirinya.
Sementara itu, di Seattle sedang terjadi terror besar-besaran. Banyak orang yang menghilang dan sering terjadi pembunuhan. Keluaga Cullen mengetahui bahwa terror ini dilakukan oleh sekumpulan vampir baru dalam jumlah besar yang masih belum bisa mengontrol dirinya. Namun, mereka terlambat mengetahui bahwa pasukan vampir baru ini mengincar satu orang yang sangat mereka lindungi, yaitu Isabella Swan.
Sejujurnya memang film ini sangat mengunggulkan aktor dan aktris mereka yang good looking, namun entah mengapa saya merasa mereka tidak terlihat terlalu menawan di film ini. David Slade, sang sutradara sepertinya sudah mengemas film ini dengan cukup baik. Mulai dari pilihan lokasi yang menurut saya sudah sangat tepat, wardrobe yang cukup bagus, dan soundtrack yang mendukung. Namun, tetap saja saya kecewa. Dialog yang terkesan cheesy cukup mendominasi film ini. Adegan yang seharusnya romantis sering menjadi garing dan malah seringnya memancing tawa penonton. Terlepas dari adegan romantisnya, adegan action di film ini lumayan bagus walaupun cuma sebentar.
Memang sebenarnya film ini sudah lumayan mewakilkan cerita di bukunya, tetapi banyak detail yang hilang (berkaitan dengan durasi, mungkin) yang justru ikut menghilangkan keutuhan ceritanya. Secara keseluruhan saya cukup kecewa dengan film ini, tapi memang dari 2 film sebelumnya film Eclipse ini merupakan film yang paling lumayan. Yah, buat kamu yang mau nonton karena penasaran, silahkan saja. Tulisan ini tidak mutlak benar, hanya dari sudut pandang saya saja kok. Di samping itu, saya juga masih awam dalam menilai film, jadi ya mohon dimaafkan kalau ada yang kurang berkenan. Cheers
Posted in Uncategorized | Tagged Movie Review | 4 Comments »







